Serang | Antero.co – Pembinaan pemain daerah menjadi salah satu sorotan dalam pembahasan regulasi penyelenggaraan liga pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-46 Pengurus Besar Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PB PERCASI) di Serang, Banten. Dalam forum tersebut, perwakilan klub dan peserta menyampaikan sejumlah masukan mengenai komposisi pemain lokal dan pendatang, perpindahan pemain, perlindungan hak pemain dalam kontrak, hingga mekanisme promosi dan degradasi antarliga.
Masukan tersebut disampaikan untuk mendorong regulasi kompetisi yang lebih terarah, adil, dan mampu mendukung pembinaan atlet secara berkelanjutan di berbagai daerah.
Pembatasan Pemain Pendatang Jadi Usulan
Salah satu usulan yang mengemuka adalah pembatasan jumlah pemain dari luar provinsi agar klub tetap memberikan ruang bagi pemain lokal untuk berkembang dan memperoleh pengalaman bertanding
.
Dalam pembahasan tersebut, muncul beberapa alternatif komposisi pemain, di antaranya usulan dua pemain pendatang dan empat pemain lokal, serta skema tiga pemain dari luar daerah dan tiga pemain lainnya. Seluruh skema itu masih berupa usulan yang perlu dikaji lebih lanjut sebelum ditetapkan sebagai ketentuan resmi.
Peserta menilai, pengaturan komposisi pemain perlu mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan klub untuk bersaing dan kepentingan pembinaan atlet lokal. Tanpa pengaturan yang tepat, pemain daerah dikhawatirkan kehilangan kesempatan bermain ketika klub lebih banyak merekrut pemain dari luar wilayah.
“Kalau pemain dari luar semua, otomatis pemain lokal akan kesulitan bersaing. Akibatnya, perkembangan prestasi di daerah juga akan terhambat,” demikian inti masukan yang disampaikan dalam forum.
Perpindahan Pemain Perlu Diatur Secara Proporsional
Selain komposisi pemain, peserta menyoroti perpindahan atlet antarklub maupun antarprovinsi. Regulasi diharapkan memberikan kepastian mengenai mekanisme perpindahan pemain tanpa menghambat hak atlet untuk mengembangkan kariernya.
Pengaturan tersebut perlu mempertimbangkan kepentingan klub, keberlanjutan pembinaan di daerah, serta kesempatan bagi pemain untuk memperoleh pengalaman dan meningkatkan prestasi.
Dengan regulasi yang jelas, proses perekrutan dan perpindahan pemain diharapkan berlangsung secara tertib, transparan, dan proporsional.
Berbagai masukan yang disampaikan peserta akan menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan regulasi. Ketentuan final diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan klub sekaligus menjaga keberlangsungan pembinaan pemain di daerah.
Perlindungan Kontrak dan Hak Pemain Menjadi Perhatian
Persoalan kontrak pemain turut menjadi perhatian dalam diskusi. Peserta mengusulkan mekanisme penyelesaian sengketa yang jelas apabila terjadi perselisihan antara pemain dan klub, terutama ketika kewajiban pembayaran yang telah disepakati tidak dipenuhi.
Kontrak merupakan dasar hubungan antara klub dan pemain. Namun, keberadaan perjanjian tertulis perlu didukung mekanisme pengawasan dan penyelesaian sengketa agar hak serta kewajiban kedua belah pihak dapat terlindungi.
Karena itu, regulasi diharapkan mengatur kejelasan dokumen perjanjian, prosedur pengaduan, tahapan penyelesaian perselisihan, serta penanganan apabila ditemukan dugaan pelanggaran kontrak.
Dalam pembahasan yang sama, muncul pula usulan mengenai standar atau batasan nilai kontrak pemain, termasuk kemungkinan pengaturan khusus berdasarkan status atau kategori pemain tertentu.
Usulan tersebut diharapkan menjadi bahan kajian untuk menciptakan hubungan profesional yang lebih jelas antara klub dan pemain. Ketentuan mengenai nilai kontrak perlu dirumuskan secara cermat dengan mempertimbangkan kepastian hukum, kepentingan atlet, dan kemampuan pengelolaan klub.
Mekanisme Promosi dan Degradasi Perlu Diperjelas
Peserta Rakernas juga meminta kejelasan mengenai sistem promosi dan degradasi antarliga, termasuk rencana penerapannya pada 2028.
Hal-hal yang menjadi perhatian meliputi jumlah klub yang berhak naik atau turun kasta, persyaratan peserta, serta mekanisme pelaksanaan dan penetapan hasil kompetisi.
Kejelasan aturan dinilai penting agar seluruh klub memiliki pemahaman yang sama mengenai sistem kompetisi dan dapat menyusun perencanaan tim dengan lebih baik.
Regulasi promosi dan degradasi yang transparan diharapkan dapat menjaga persaingan yang sehat sekaligus memberikan kepastian bagi klub dalam menjalani setiap tahapan kompetisi.
Regulasi Liga Diharapkan Memperkuat Pembinaan Jangka Panjang
Berbagai masukan dalam Rakernas menunjukkan bahwa regulasi liga tidak hanya berkaitan dengan teknis penyelenggaraan pertandingan, tetapi juga berperan dalam membangun sistem pembinaan atlet yang berkelanjutan.
Pembatasan pemain pendatang, pemerataan kesempatan bermain, perlindungan hak pemain, kepastian kontrak, serta kejelasan promosi dan degradasi diharapkan menjadi bagian dari tata kelola kompetisi yang lebih baik.
Masukan dari perwakilan klub dan peserta akan dihimpun serta dipertimbangkan dalam proses penyusunan regulasi. Ketentuan yang nantinya ditetapkan diharapkan mampu menyeimbangkan kebutuhan kompetisi, profesionalisme klub, perlindungan pemain, dan pengembangan prestasi di berbagai daerah.
Melalui pembahasan tersebut, Rakernas PB PERCASI ke-46 diharapkan dapat menghasilkan arah kebijakan yang tidak hanya meningkatkan kualitas kompetisi, tetapi juga memperkuat fondasi pembinaan atlet catur nasional.
Catatan redaksi: Komposisi pemain, standar nilai kontrak, serta mekanisme promosi dan degradasi dalam berita ini merupakan usulan atau pokok pembahasan peserta, bukan keputusan final, kecuali telah ditetapkan dalam dokumen resmi PB PERCASI. Sebelum publikasi, pastikan istilah liga dan kategori pemain sesuai dengan regulasi yang sedang dibahas. Kutipan langsung juga sebaiknya dicocokkan dengan rekaman atau transkrip asli sebelum diterbitkan.
(Maesaroh)





