Pendidikan Indonesia Kurang Menekankan pada STEAM

0
32

Antero Tangerang – Ketua-marah dari Yayasan Universitas Internasional Liaison Indonesia (IULI), Dr. Ing. Ilham A. Habibie, sistem pendidikan MBA di Indonesia tidak menekankan Ilmu, Teknologi, Engeneering, Seni, dan Matematika (UAP).

Akibatnya, Indonesia menghasilkan sangat sedikit produk dan layanan yang mengacu pada daya saing berbasis STAM. Pendidikan adalah kunci penting yang harus menjadi perhatian.

Baca juga: Mirisnya Potret Pendidikan Di Banten

Jika Indonesia ingin bersaing di kelas dunia dengan negara dan negara lain, maka negara harus berani berinvestasi, terutama dalam hal penelitian dan pengembangan.

“Selain itu, kita juga harus memiliki industri yang kompetitif. Tolok ukur pendidikan kita tidak hanya bagus di rumah, tetapi harus diukur oleh pendidikan terbaik di dunia. Kondisi saat ini, di mana informasi tersebar begitu cepat dengan seperti masyarakat luas, memiliki konsekuensi untuk pendidikan, “katanya saat open house di Kampus IULI di MyRepublic Plaza Building BSD, Tangerang pada Sabtu (11/24).

Selain itu, katanya, mahasiswa Indonesia yang belajar di bidang teknik masih memiliki persentase kecil dibandingkan dengan siswa non-teknis. Ini harus diubah, karena masa depan bangsa dan negara ada di pundak orang-orang yang dapat melakukan perubahan dan mencari solusi terhadap tantangan dan peluang yang ada.

“Jika tidak, akan sulit bersaing, karena tidak ada orang atau hanya sedikit yang berpengalaman sehingga harus dilakukan oleh insinyur luar,” katanya.

Menurutnya, negara harus berani berinvestasi dalam penelitian dan pengembangan. Bukan hanya biaya, tetapi hasil penelitian dan pengembangan harus memasuki industri untuk diterapkan, sehingga menghasilkan pendapatan. Penghasilan yang diperoleh akan kembali ke komersialisasi produk. Inilah yang sangat buruk dikembangkan di Indonesia.

Baca juga: Praktik Percaloan Tenaga Kerja Penyumbang Pengangguran di Banten

“Kami lebih mengandalkan produk orang lain buatan Indonesia atau menggunakan teknologi dari orang lain atau perusahaan yang diterapkan di sini, dan kami membayar royalti. Kami lebih dari pengguna bukan pengembang,” tutupnya.

 

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here