Polda Banten Periksa 4 Penyebar Berita Hoax Gempa Di Banten

oleh
Foto Hoax Gempa Banten
Foto Hoax Gempa Banten

ANTERO.CO SERANG – Polda Banten sudah memeriksa 4 orang saksi terkait penyebaran hoax soal gempa Banten. Keempatnya diperiksa sebagai yang pertama kali menyebar informasi hoax di media sosial.

“Soal hoax, kita sudah memperoleh identitas pelaku. Dalam waktu dekat akan kita ambil langkah-langkah,” kata Kapolda Banten Brigjen Pol Listyo Sigit Prabowo kepada wartawan di Kota Serang, Rabu (31/1/2018).

Baca Juga : Tetap Kokoh Saat Gempa Banten, Ini Rahasia Rumah Suku Baduy

Listyo menambahkan, pelaku penyebar hoax tersebut berada di wilayah hukum Polda Banten.

“Di wilayah hukum Banten,” katanya singkat.

“Kita sudah lakukan pemeriksaan terhadap empat orang. Statusnya keempatnya masih saksi, prosesnya sudah masuk ke tahap penyidikan,” kata Direktur Kriminal Khusus Polda Banten Kombes Pol Abdul Karim, usai peresmian gedung Polda Banten, Rabu (31/1/2018).

Informasi hoax itu sendiri  sempat viral melalui Whatsapp dan  meresahkan masyarakat. Sebuah surat imbauan dari BMKG mengenai gelombang tinggi dipelintir oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

“Pelaku menambahkan tulisan berisi potensi tsunami dilampiri surat BMKG mengenai ketinggian gelombang,” kata Abdul Karim.

Pihak Kepolisian Banten  akan terus mendalami motivasi para pelaku penyebar info hoax tersebut. Sebab, informasi tersebut telah membuat resah masyarakat di tengah peristiwa gempa telah mengguncang wilayah Banten Selatan.

“Jika terbukti kita akan kenakan Undang Undang ITE. Keempatnya orang Banten. Selain menyebar melalui whatsapp juga salah satunya memviralkan melalui instagram,” jelasnya.

Baca : Gempa Di Lebak Banten Memakan Korban Jiwa

Seperti yang yang beredar sebelumnya, informasi bohong pascagempa di Banten ramai beredar melalui WA.  Dalam berita hoax tersebut juga ada himbauan untuk keluar rumah pada malam hari  pukul 22.30-23.59 WIB karena akan ada gempa susulan berkekuatan 7,5 skalarichter.

“Surat itu benar mengenai warning gelombang, tapi surat itu dipotong dan disalahgunakan seperti akan terjadi gempa bumi, dan tsunami,” kata Prakirawan BMKG Klas I Stasiun Serang Trian Asmarahadi, Selasa (23/1) lalu. (FD/RED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *