Manuver Politik PDI Perjuangan Jelang Pilpres 2019

oleh
5/5 (1)

Manuver Politik PDI Perjuangan Jelang Pilpres 2019

ANTERO.COJAKARTA, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memutuskan kembali mengusung Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) sebagai calon presiden (capres) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Keputusan ini diambil dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III PDIP di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Kota Denpasar, Bali, Jumat (23/2).

Politik PDI Perjuangan Jelang Pilpres 2019

Teriakan dan sorak sorotan peserta Rakernas III PDI Perjuangan di Denpasar Bali, Jumat lalu berbunyi setelah Ketua Megawati Soekarnoputri kembali membawa Joko Widodo sebagai calon presiden 2019.

“Mengenai kriteria wakil presiden akan dibicarakan nanti sama semua partai pendukung, akan kita dibicarakan,” jelas Joko Widodo.

Salah satu hasil Rakernas III Ketua Umum PDIP menugaskan putranya Prananda Prabowo serta Sekjen PDIP segera bertemu putra Ketua Umum Partai Demokrat, SBY.

Baca juga : Ini Daftar Nomor Urut Parpol Peserta Pemilu 2019

“Ibu Mega menugaskan Mas Prananda dan saya untuk melakukan dialog. Sehingga kami akan mencari waktu yang tepat tentunya setelah Rakernas ini untuk mengimplementasikan semua keputusan Rakernasdan membuka ruang berdialog dengan partai lain,” terang Hasto Kristianto Sekjen PDIP.

Selain PDIP, parpol pemilik kursi di DPR yang mengusung Joko Widodo sebagai capres 2019 adalah Golkar, PPP, Nasdem, dan Hanura.

Megawati Instruksikan Kader Menangkan Jokowi di Pilpres 2019

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menginstruksikan semua kadernya untuk memenangkan Joko Widodo dalam kontestasi di Pemilu Presiden 2019.

“Kami membuat satu rekomendasi untuk eksternal dan internal, yaitu merekomendasikan kepada semua anggota dan kader PDI Parjuangan untuk mengamankan, menjaga, dan menyukseskan pencalonan kembali Joko Widodo sebagai calon presiden 2019-2024,” kata Megawati dalam penutupan Rakernas III PDI Perjuangan di Denpasar, Bali, Minggu.

Megawati mengatakan rekomendasi tersebut harus dijalankan oleh semua anggota dan kader PDI Perjuangan, untuk menyukseskan keputusan partai yang mengusung Jokowi di Pilpres 2019.

Dia mengatakan rekomendasi Rakernas tersebut memang satu namun merangkum semua hasil pembahasan Rakernas yang berlangsung tiga hari tersebut.

“Semoga Allah SWT memberikan rahmat bagi bangsa dan negara untuk mencapai kemenangan. Kepada para kader, pulang dengan baik, sebarkan dan jalankan rekomendasi ini,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan rekomendasi tunggal menegaskan perintah langsung Megawati kepada seluruh kader dan simpatisan partai agar tidak hanya mengamankan namun juga bergerak aktif memenangkan Jokowi di Pilpres 2019.

Dia menilai, kepemimpinan Jokowi selama menjadi Presiden telah membangun harapan kepada masyarakat untuk hidup berdaulat dan “berdiri di atas kaki sendiri” atau berdikari sehingga harus dilanjutkan.

“Semua kader dan simpatisan partai harus bergerak aktif agar Pak Jokowi yang selama menjadi Presiden dengan kepemimpinannya membangun harapan untuk hidup berdaulat dan berdikari. Semuanya memiliki komitmen untuk menjalankannya,” katanya.

Hasto mengatakan untuk calon wakil presiden, akan diputuskan oleh Megawati dalam momentum yang tepat karena keputusan Kongres PDI Perjuangan Ke-IV memutuskan bahwa penentuan capres-cawapres diserahkan sepenuhnya kepada Megawati sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan.

Apa Saja Kriteria Pendamping Jokowi di Pilpres 2019?

Pengamat politik Syarwi Pangi Chaniago mengatakan bahwa calon wakil presiden yang mungkin menemani Joko Widodo (Jokowi) harus memiliki kriteria tertentu.

Sebelumnya, pada pertemuan kerja nasional Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) III di Bali pada hari Jumat (23/2), Ketua PDIP Megawati Soekarnoputri secara resmi mencalonkan Jokowi sebagai calon presiden (calon presiden) pada tahun 2019 pemilihan presiden.

“Sebelum menjawab siapa yang pas mendampingi Jokowi, bahas dulu tulangnya sebelum ke dagingnya,” ujar Syarwi, Sabtu (24/2).

Pertama dengan melihat kriteria. Kedua, dengan melihat dari sisi koalisi partai Jokowi. Kemudian dilihat dari kalkulasi dan perhitungan positif dan negatif atau baik buruk dari masing-masing nama yang diusung.

Dari kriteria itu, Jokowi bisa ambil dari popularitas dan elektabilitas dari nama-nama yang diusung. Penting pula dari kriteria menyoal latar belakang cawapres. “Apakah Jokowi akan mengambil dari militer semisal ada Gatot dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Atau Jokowi akan mengambil dari latar belakang ekonomi. Atau dari tokoh agama dan ulama serta santri yang merujuk pada TGB,” ujarnya.

Jokowi juga bisa mengambil cawapresnya dari selera partai dalam mengusungkan cawapres-nya. Menurut Syarwi, hal yang tidak kalah penting yang menjadi pertimbangan adalah dilihat apakah sosok cawapres-nya berasal dari Jawa atau luar Jawa.

Merepresentasikan penantang cawapres, Syarwi menyarankan Jokowi mengambil dari TGB. Atau Ahmad Heriawan (Aher) dari partai keadilan sejahtera (PKS). Dia beralasan, mengapa Aher, sebab menurutnya dengan melihat popularitas dan terbukti ia memimpin di wilayahnya selama dua periode.

“Namun, PKS belum tentu mau. Kalau PKS bergabung ke Jokowi, itu kanpartai oposisi, kemungkinan elektabilitas PKS menurun jika ada kadernya yang diusungkan mendampingi Jokowi,” ujarnya.

Meskipun begitu, menurutnya sentimen terhadap Jokowi akan terus muncul di masa pilpres ini. Polanya mungkin terulang seperti Pilkada DKI Jakarta 2017 namun tidak bisa disamakan persis dengan Pilkada DKI 2017. “Masih jauh titik temunya. Tapi, kalau dua putaran, memungkinkan,” kata dia.

Loading...

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Salam kenal semuanya, jangan lupa berlangganan artikel dari kami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *