Sejarah Singkat Papua Barat dan Papua Nugini

0
20
Sejarah Singkat Papua Barat dan Papua Nugini
  • Sejarah papua nugini
  • Kehidupan di papua new guinea
  • Papua nugini masuk benua mana
  • Sejarah papua nugini pisah dari indonesia
  • Kenapa papua nugini tidak masuk indonesia
  • Presiden papua nugini
  • Bentuk pemerintahan papua nugini
  • Bahasa papua nugini

Papua Barat

Papua Barat (disingkat Pabar) adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di ujung barat Pulau Papua. Ibukotanya adalah Manokwari. Nama provinsi ini sebelumnya adalah Irian Jaya Barat yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007 tanggal 18 April 2007, nama provinsi ini diubah menjadi Papua Barat. Papua Barat dan Papua merupakan provinsi yang memperoleh status otonomi khusus. Provinsi Papua Barat, meski telah menjadi provinsi tersendiri, tetap mendapat perlakuan khusus sebagaimana provinsi induknya. Provinsi ini juga mempunyai KPUD sendiri dan menyelenggarakan pemilu untuk pertama kalinya pada tanggal 5 April 2004.

Sejarah Papua Barat yang secara umum masuk dalam wilayah Papua atau yang dahulu dikenal dengan nama Irian Jaya sebelum kemerdekaan Indonesia kurang dibahas dalam buku-buku sejarah nasional untuk sekolah dasar sampai menengah, sehingga banyak yang tidak mengetahuinya. Sejarah Papua Barat dalam hal hubungannya dengan bangsa-bangsa lain yang mendiami Kepulauan Nusantara sangat penting, karena apabila kita berbicara mengenai sejarah Indonesia, kurang lengkap rasanya jika tidak membahas Papua, karena ternyata sejarah Papua semenjak wilayah tersebut dibicarakan dalam sejarah, selalu berkaitan dengan wilayah-wilayah lain di Nusantara yang akhirnya secara bersama-sama membentuk Negara Indonesia.

Sejarah Papua dalam kaitannya sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sangatlah unik. Walaupun dinilai terlambat diakui oleh dunia internasional sebagai bagian dari NKRI, namun sebenarnya sejak awal penduduk Papua sudah merupakan “keluarga besar” penduduk yang mendiami wilayah Nusantara yang kemudian bergabung dan membentuk Negara Indonesia.

Pada masa kerajaan di wilayah Nusantara, Pemerintah Kerajaan Sriwijaya tercatat pernah mengirimkan burung-burung asli Papua yang waktu itu disebut Janggi kepada Pemerintah Kerajaan China.

Dari beberapa nama masa lalu yang diberikan untuk Papua ini, tampak jelas bahwa sejak daerah ini di kenal sejarah, sudah ada hubungan yang amat erat antara wilayah ini dengan wilayah-wilayah lain di Nusantara saat itu.

Nama lain dari Papua pada masa lalu adalah “Samudranta“, yang menunjukkan bahwa daerah Papua telah di kenal oleh masyarakat pemakai bahasa Sansekerta yang bermukim di wilayah kepulauan Indonesia, baik dalam pengertian geo-politik maupun sosial ekonomi. dan budaya dalam arti luas. Ramandey menulis bahwa pada abad pertama Masehi pengaruh Hindu dan India telah tersebar di seluruh Nusantara saat itu dan tidak hanya terbatas di Jawa dan Sumatera saja tetapi juga menyebar sampai ke timur termasuk Papua. Mungkin saja yang disebut “Pulau Ujung Samudranta “ itu adalah Pulau Nieuw Guinea. Rupanya pelaut-pelaut India telah sampai kesini, karena terbukti dari catatan-catatan dari orang India yang menyebut Irian itu Samudranta, yang berarti pulau diujung lautan. Ada besar kemungkinan mereka sudah berlayar sampai di daerah ini.”

Bila hal itu dihubungkan dengan Kerajaan Sriwijaya besar kemungkinan bahwa penamaan itu diberikan oleh kerajaan maritim itu, yang merupakan indikasi bahwa pulau Irian juga telah berada di bawah kontrol kekuasaannya.

Pada abad ke-13 seorang musafir Cina bernama Chau Yu Kua menulis bahwa di Kepulauan Indonesia terdapat satu daerah bernama Tung-ki yang merupakan bagian dari suatu negara di Maluku. Tung-ki adalah nama Cina untuk Janggi atau Irian.

Pada masa Kerajaan Majapahit (1293 – 1520), Kitab Negara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca juga secara eksplisit menyebutkan wilayah Papua sebagai bagian dari Kerajaan Majapahit.

Setelah kedatangan bangsa Eropa, yaitu pada tahun 1660, sebuah perjanjian disepakati antara Tidore dan Ternate di bawah pengawasan Pemerintah Hindia Timur Belanda yang menyatakan bahwa semua wilayah Papua berada di wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore. Perjanjian ini menunjukkan bahwa pada awalnya Pemerintah Belanda sebenarnya mengakui Papua sebagai bagian dari penduduk di kepulauan Nusantara.

Sebelum Perang Dunia II, Pemerintah Hindia Belanda menempatkan Papua dan para penduduknya di bawah Provinsi Maluku dengan Ambon sebagai ibukota pemerintahan. Menyatunya Papua dengan wilayah lain di Nusantara dipertegas dengan peta Pemerintah Belanda tahun 1931 yang menunjukkan bahwa wilayah colonial Belanda membentang dari Sumatera di sebelah barat sampai Papua di sebelah Timur. Papua juga tidak pernah disebutkan terpisah dari Hindia Belanda. Fakta ini menunjukkan bahwa berdasarkan sejarah, Papua merupakan bagian dari bangsa-bangsa di kepulauan Nusantara yang akhirnya membentuk Negara Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan pernyataan kemerdekaan seluruh wilayah bekas Hindia Belanda menjadi Negara Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Wilayah Papua Barat

Wilayah provinsi ini mencakup kawasan kepala burung pulau Papua dan kepulauan-kepulauan di sekelilingnya. Di sebelah utara, provinsi ini dibatasi oleh Samudra Pasifik, bagian barat berbatasan dengan provinsi Maluku Utara dan provinsi Maluku, bagian timur dibatasi oleh Teluk Cenderawasih, selatan dengan Laut Seram dan tenggara berbatasan dengan provinsi Papua. Batas Papua Barat hampir sama dengan batas Afdeling (“bagian”) West Nieuw-Guinea (“Guinea Baru Barat”) pada masa Hindia Belanda. Provinsi ini dibagi dalam beberapa kabupaten dan Kota.

Provinsi Papua Barat

Provinsi Papua Barat memiliki semboyan Cintaku Negeriku. Provinsi Papua Barat berdiri pada tanggal 4 Oktober 1999 berdasarkan UU No.45 Tahun 1999 dengan beribukota di kota Manokwari. Papua Barat memiliki 10 kabupaten, 1 kotamadya, 160 kecamatan, 78 kelurahan, dan 1.295 desa. Pada tahun 1990 jumlah penduduk di Provinsi Papua Barat tercatat sebanyak 385.509 jiwa, sedangkan pada tahun 2000 tercatat 571.107 jiwa, dan tahun 2007 telah mencapai 722.981 jiwa.

Berikut ini tabel Kabupaten/Kota di Provinsi Papua Barat

No

Kabupaten/Kota

Ibu Kota

1

Kabupaten Sorong

Sorong

2

Kabupaten Manokwari

Manokwari

3

Kabupaten Fak Fak

Fak Fak

4

Kabupaten Sorong Selatan

Teminabuan

5

Kabupaten Raja Ampat

Waisai

6

Kabupaten Teluk Bintuni

Bintuni

7

Kabupaten Teluk Wondama

Rasiei

8

Kabupaten Kaimana

Kaimana

9

Kabupaten Tambrauw

Fef

10

Kabupaten Maybrat

Aifat

11

Kota Sorong

Sorong

Penduduk Provinsi Papua Barat memeluk agama yang berbeda-beda, namun kerukunan hidup beragama dapat terjaga dengan baik, hal ini terlihat dari tumbuhnya fasilitas peribadatan bagi semua pemeluk agama dan bertambahnya rohaniawan dari masing-masing agama. Data Tahun 2006 menunjukkan bahwa prosentase terbesar pemeluk agama adalah Kristen Protestan (50,70%), kemudian Islam (41,27%), Kristen Katolik (7,70%), Hindu (0,12%), Budha (0,08%) dan Konghucu (0,01%). Pada Provinsi Papua Barat terdapat Kabupaten yang mendapat julukan Kota Injil yaitu Kabupaten Manokwari dimana pertama kali Injil datang ke Tanah Papua di Pulau Mansinam yang merupakan wilayah Kabupaten Manokwari.

Provinsi Papua Barat terletak antara 0 – 4 derajat Lintang Selatan dan 124 – 132 derajat Bujur Timur, tepat dibawah garis katulistiwa dengan ketinggian 0 – 100 meter dari permukaan laut. Luas wilayah Provinsi Papua Barat sebesar 126.093 kilometer persegi.

Batas Utara: Laut Pasifik, Batas Barat: Laut Seram Provinsi Maluku, Batas Selatan: Laut Banda Provinsi Maluku, Batas Timur: Provinsi Papua.

Kabupaten Fakfak merupakan kabupaten tertinggi dengan ketinggian 10 – 100 meter diatas permukaan laut, sedangkan kota-kota lainnnya berkisar antara 10 – 50 meter diatas permukaan laut.

Suku yang mendiami Provinsi Papua Barat yaitu

Suku Arfak, Suku Doreri, Suku Kuri, Suku Simuri, Suku Irarutu, Suku Sebyar, Suku Moscona, Suku Mairasi, Suku Kambouw, Suku Onim, Suku Sekar, Suku Maibrat, Suku Tehit, Suku Imeko, Suku Moi, Suku Tipin, Suku Maya, Suku Biak, Suku Anggi, Suku Arguni, Suku Asmat, Suku Awiu, Suku Batanta, Suku Biak, Suku Bintuni, Suku Dani, Suku Demta, Suku Genyem, Suku Guai, Suku Hattam, Suku Jakui, Suku Kapauku, Suku Kiman, Suku Mairasi, Suku Manikion, Suku Mapia, Suku Marindeanim, Suku Mimika, Suku Moni, Suku Muyu, Suku Numfor, Suku Salawati, Suku Uhundun, dan Suku Waigeo.

Bahasa yang digunakan masyarakat Papua Barat cukup banyak yaitu ada 263 bahasa yang terdiri atas 5 bahasa kelompok Austronesia dan 210 kelompok non Austronesia.

Senjata Tradisional dari Papua Barat yang terkenal adalah Pisau Belati yang terbuat dari tulang kaki burung Kasuari. Senjata lainnya adalah Busur dan Panah.

Tari Daerah Papua Barat diantaranya Tari Suanggi, Tari Perang, Tari Tifa, Tari Api, Tari Selamat Datang, Tari Musyoh, Tari Wor, Tari Cendrawasih, dan Tari Mayai Marowa.

Lagu yang terkenal diantaranya Lagu Sajojo, Lagu Apuse, Lagu Yamko Rambe Yamko.

Alat Musik yang sering dimainkan di Papua Barat adalah Atowo, Tifa, dan Fu.

Rumah adat tradisional Papua Barat adalah Rumah Honai.

Banyak cerita daerah dari Provinsi Papua Barat diantaranya Asal Mula Burung Cendrawasih, dan Meraksamana.

Pahlawan dari Provinsi Papua Barat adalah Frans Kaisiepo.

Pakaian adat Papua Barat, para lelakinya memakai hiasan kepala dari bulu burung, serta seutas kalung dari tulang hewan, gigi dan kerang. Kaum perempuanya memakai baju berumbai-rumbai dari dada sampai ke lutut serta kalung dari tulang-tulang hewan dan kerang.

Makanan khas di Papua Barat adalah Papeda, Aries, Ubi, dan Keripik Keladi.

Obyek wisata di Papua Barat diantaranya Teluk Triton, Taman Nasional Lorentz, Pulau Mansinam, Wisata Bawah Laut Raja Ampat, Pantai Amban, Pantai Pasir Putih, Situs Putbakala Tapurarang, dan Taman Nasional Teluk Cendrawasih.

Gunung-gunung yang ada di Provinsi Papua Barat diantaranya Pegunungan Arfak (2.940 m) di Kabupaten Manokwari , Pegunungan Fak- Fak di Kabupaten Fak-Fak, Gunung Fudi (1.280 m) di Kabupaten Fak-Fak, Pegunungan Kumafa di Kabupaten Fak-Fak, Gunung Kwoko (3.000 m) di Kabupaten Sorong, Pegunungan Tamarau, di Kabupaten Sorong, Gunung Togwomeri (2.680 m) di Kabupaten Manokwari, Gunung Wasada (1.070 m) di Kabupaten Manokwari, Gunung Wiwi (1.130 m) di Kabupaten Manokwari.

Danau yang ada di Provinsi Papua Barat diantaranya Danau Ayamaru di Kabupaten Maybrat, Danau Anggi Giji di Kabupaten Manokwari, Danau Anggi Gita di Kabupaten Manokwari, Danau Yamur di Kabupaten Manokwari, Danau Yawasi di Kabupaten Sorong.

Hasil alam Papua Barat diantaranya mutiara, rumput laut, jagung, kacang hijau, sagu, cengkih, pala, dan udang.


Papua Nugini

Papua Nugini atau Papua Guinea Baru adalah sebuah negara yang terletak di bagian timur Pulau Papua dan berbatasan darat dengan Provinsi Papua (Indonesia) di sebelah barat. Benua Australia di sebelah selatan dan negara-negara Oseania berbatasan di sebelah selatan, timur, dan utara.

Ibu kotanya, dan salah satu kota terbesarnya, adalah Port Moresby. Papua Nugini adalah salah satu negara yang paling bhinneka di Bumi, dengan lebih dari 850 bahasa lokal asli dan sekurang-kurangnya sama banyaknya dengan komunitas-komunitas kecil yang dimiliki, dengan populasi yang tidak lebih dari 6 juta jiwa.

Papua Nugini juga salah satu negara yang paling luas wilayah perkampungannya, dengan hanya 18% penduduknya menetap di pusat-pusat perkotaan. Negara ini adalah salah satu negara yang paling sedikit dijelajahi, secara budaya maupun geografis, dan banyak jenis tumbuhan dan binatang yang belum ditemukan diduga ada di pedalaman Papua Nugini.

Sebagian besar penduduk menetap di dalam masyarakat tradisional dan menjalankan sistem pertanian sederhana yang hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Masyarakat dan marga ini memiliki beberapa pengakuan tersirat di dalam kerangka undang-undang dasar negara Papua Nugini.

Undang-Undang Dasar Papua Nugini (Pembukaan 5(4)) menyatakan harapan bagi kampung dan komunitas tradisional untuk tetap menjadi satuan kemasyarakatan yang lestari di Papua Nugini,[5] dan untuk langkah-langkah aktif yang diambil untuk melestarikannya. Dewan Perwakilan Rakyat Papua Nugini telah memberlakukan beberapa undang-undang di mana sejenis “Tanah ulayat” diakui, artinya bahwa tanah-tanah tradisional pribumi memiliki beberapa landasan hukum untuk memproteksi diri dari campur tangan kaum pendatang yang bertindak berlebihan.

Tanah ulayat ini disebutkan melingkupi sebagian besar tanah yang dapat digunakan di negara ini (sekitar 97% seluruh daratan);[6] tanah yang dapat diolah oleh kaum pendatang bisa saja berupa milik perseorangan di bawah syarat pinjaman dari negara atau tanah milik pemerintah.

Geografi negara Papua Nugini beragam dan di beberapa tempat sangat kasar. Sebuah barisan pegunungan memanjang di Pulau Papua, membentuk daerah dataran tinggi yang padat penduduk. Hutan hujan yang padat dapat ditemukan di dataran rendah dan daerah pantai.

Rupa bumi yang sedemikian telah membuatnya menjadi sulit bagi pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur transportasi. Di beberapa daerah, pesawat terbang adalah satu-satunya modus transportasi.

Setelah diperintah oleh tiga kekuatan asing sejak 1884, Papua Nugini merdeka dari Australia pada tahun 1975. Kini Papua Nugini masih menjadi bagian dari dunia persemakmuran. Banyak penduduk hidup dalam kemiskinan yang cukup buruk, sekitar sepertiga dari penduduk hidup dengan kurang dari US$ 1,25 per hari.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here