Tangerang | Antero.co – Nilai-nilai kesopanan, kepedulian, dan balas budi yang selama ini menjadi bagian penting dari budaya bangsa Indonesia dinilai perlu terus dijaga di tengah kehidupan masyarakat modern.
Ketua DPC YLPK PERARI Kabupaten Tangerang, Donny Putra T., S.H., menyoroti fenomena memudarnya adab dan rasa terima kasih dalam hubungan antarmanusia. Ia mengingatkan bahwa budi pekerti bukan sekadar ucapan, melainkan tercermin melalui sikap, penghargaan, dan kesediaan mengingat kebaikan orang lain.
“Hewan ganas saja bisa balas budi, masa manusia tidak?” Ungkapan tersebut menjadi pesan reflektif tentang pentingnya menjaga hati nurani dan menghargai kebaikan yang pernah diterima.
Balas Budi, Cerminan Adab dan Karakter Bangsa
Menurut pesan yang disampaikan Donny, budaya saling membalas kebaikan merupakan salah satu nilai luhur yang hidup dalam masyarakat Indonesia. Tradisi gotong royong, tolong-menolong, menghormati orang yang lebih tua, serta menghargai jasa sesama merupakan bagian dari warisan sosial yang perlu dipertahankan.
Balas budi bukan berarti seseorang harus selalu mengembalikan bantuan dalam bentuk materi. Sikap tersebut dapat diwujudkan melalui ucapan terima kasih yang tulus, kesediaan membantu ketika dibutuhkan, menjaga kepercayaan, serta tidak melupakan orang-orang yang pernah hadir memberikan pertolongan.
Sebaliknya, ketika kebaikan dianggap sebagai sesuatu yang biasa dan orang yang pernah membantu justru dilupakan, hubungan sosial berisiko kehilangan kehangatan dan kepercayaan.
Jangan Sampai Modernisasi Mengikis Nilai Ketimuran
Perkembangan zaman membawa banyak perubahan dalam cara manusia berinteraksi. Namun, kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup seharusnya tidak menghilangkan nilai kesantunan, penghormatan, dan kepedulian terhadap sesama.
Adab tidak diukur dari jabatan, kekayaan, pendidikan, ataupun seberapa tinggi kedudukan seseorang. Adab terlihat dari cara seseorang memperlakukan orang lain, terutama mereka yang pernah berjasa dalam perjalanan hidupnya.
Nilai ketimuran juga tidak cukup hanya dibicarakan dalam pidato atau slogan. Nilai tersebut perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, organisasi, dunia kerja, maupun masyarakat luas.
Kebaikan Tidak Selalu Menuntut Imbalan, tetapi Jangan Lupakan Jasa
Pesan yang terkandung dalam kritik tersebut bukanlah tuntutan agar setiap pertolongan selalu dibayar kembali. Ketulusan tetap menjadi dasar dalam membantu sesama. Namun, ketulusan tidak seharusnya menjadi alasan bagi seseorang untuk bersikap tidak tahu berterima kasih.
Menghargai jasa orang lain merupakan bentuk kedewasaan moral. Seseorang boleh berbeda pendapat, menempuh jalan hidup yang berbeda, bahkan tidak lagi memiliki hubungan dekat dengan orang yang pernah membantunya. Akan tetapi, rasa hormat dan pengakuan atas kebaikan yang pernah diterima tetap merupakan cerminan karakter yang baik.
Pada akhirnya, bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi juga bangsa yang mampu menjaga martabat, kesantunan, dan kepedulian sosial.
Pesan moralnya sederhana: jangan sampai manusia yang memiliki akal, hati nurani, dan kemampuan membedakan benar dan salah justru kehilangan rasa terima kasih yang menjadi dasar hubungan antarmanusia.
(BG)





