Ketika Orang Kaya Pandai Berbicara, tetapi Abai terhadap Tanggung Jawab Sosial: Kritik Intelektual terhadap Kaum Miskin tanpa Empati dan Jaminan

oleh

Pandeglang | Antero.co – Dalam realitas sosial, sering kita jumpai orang kaya yang berbicara dengan bahasa intelektual penuh logika, teori ekonomi, dan dalil moral saat mengkritisi cara orang miskin mencari rezeki. Ia berbicara tentang kerja keras, efisiensi, dan akal sehat, seolah kemiskinan hanyalah akibat dari kesalahan metode dan kurangnya kecerdasan.

Namun Al-Qur’an mengajarkan bahwa persoalan rezeki tidak sesederhana itu, dan Allah berfirman.

“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Ar-Ra’d: 26)

Ayat tersebut menegaskan bahwa rezeki bukan semata hasil kecakapan intelektual atau strategi ekonomi. Ia adalah bagian dari ketetapan Allah, yang berjalan seiring dengan ikhtiar manusia, tetapi tidak tunduk sepenuhnya pada logika manusia.
Orang kaya sering mengkritik si miskin.

“Caramu salah.”
“Harusnya kamu begini.”
“Kamu kurang pintar membaca peluang.”

Namun kritik itu berhenti pada wacana. Ia tidak disertai jaminan, tidak pula tanggung jawab. Ia lupa bahwa pengetahuan yang tidak melahirkan empati hanyalah kesombongan intelektual yang dibungkus kata-kata rasional, Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas.

“Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 1–3)

Mengomentari orang yang seolah miskin dengan profesinya, tetapi sikap orang berpunya yang enggan menjamin, enggan menanggung risiko, dan enggan berbagi akses.

Islam tidak melarang kritik, tetapi menolak kritik yang lepas dari tanggung jawab sosial. Rasulullah SAW sendiri tidak hanya menasihati kaum fakir untuk bersabar dan berusaha, tetapi juga membangun sistem: zakat, infak, sedekah, dan larangan menumpuk harta tanpa kepedulian, Allah berfirman.

“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)
Hak, bukan belas kasihan. Hak, bukan nasihat kosong.

Maka ketika orang kaya mengkritisi cara si miskin mencari rezeki, Al-Qur’an seakan bertanya balik, Apakah engkau hanya ingin tampak cerdas, atau benar-benar ingin adil?

Apakah kritikmu mendekatkan pada solusi, atau sekadar menjaga jarak kelas sosial? Sebab dalam pandangan Al-Qur’an, kekayaan bukan tanda keunggulan intelektual, dan kemiskinan bukan bukti kegagalan akal, Keduanya adalah ujian. Yang satu diuji dengan kepedulian, yang lain diuji dengan kesabaran.

Dan bisa jadi, yang paling berat ujiannya bukan si miskin yang berjuang mencari rezeki, tetapi si kaya yang pandai berbicara namun enggan menjamin dengan perbuatannya.

 

(Acong)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.